Melasma Bukan Hanya Masalah Kehamilan, Bisa Terjadi pada Wanita Mana Pun. Dan Semua Ini Karena Hormon Kita
Melasma sering disebut sebagai “topeng kehamilan” karena bercak-bercak gelap tidak merata di wajah tampak muncul saat seorang wanita sedang hamil. Namun melasma tidak hanya terjadi pada ibu hamil — kondisi kulit ini bisa muncul di tahap kehidupan mana pun, termasuk sebelum kehamilan dan saat menopause.
Rasio melasma pada wanita dibandingkan pria adalah 9:1, dan menurut American Academy of Dermatology, usia rata-rata munculnya melasma adalah antara 20 hingga 40 tahun.
Orang dengan warna kulit lebih gelap, seperti keturunan Asia Tenggara dan Asia Selatan, lebih rentan mengalami melasma. Melasma adalah kondisi kulit yang kompleks. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh paparan sinar UV dan gaya hidup, tetapi juga faktor genetik dan hormonal, termasuk kondisi medis seperti gangguan tiroid. Bagi sebagian orang, melasma bisa bersifat menetap.
MELASMA SULIT DIDIAGNOSIS
Melasma digambarkan sebagai bercak gelap dan tidak merata dengan batas tidak beraturan di kedua sisi wajah. Bercak ini umumnya ditemukan di dahi, pipi, dan hidung.
Tidak ada tes diagnostik khusus untuk melasma. Diagnosis sebagian besar bergantung pada pengenalan dokter berdasarkan pedoman medis, kata Dr S K Tan, pendiri sekaligus direktur medis IDS Clinic, sebuah klinik estetika. Masalahnya, meski ada pedoman “baku” semacam ini, melasma tetap tidak mudah didiagnosis.
Melasma sering salah didiagnosis atau terlewatkan karena bisa muncul bersamaan dan/atau tumpang tindih dengan jenis hiperpigmentasi umum lainnya, seperti hiperpigmentasi pasca-inflamasi, flek penuaan, atau bintik-bintik.
Terkadang, bercak melasma memiliki batas yang jelas dan teratur, atau hanya muncul di satu sisi wajah, sehingga bisa menyerupai bentuk pigmentasi lain, kata Dr Tan.
HORMON BERPERAN BESAR DALAM MELASMA
Perubahan hormon berperan besar dalam munculnya — dan kambuhnya — melasma.
Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama saat kehamilan, dapat menjadi pemicu munculnya melasma dengan merangsang produksi melanin dan menyebabkan munculnya bercak gelap pada kulit. Melanin adalah pigmen yang menentukan warna kulit, rambut, dan mata kita.
Bahkan, penelitian menemukan bahwa kadar estrogen yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan pigmentasi kulit. Dan karena kadar estrogen terus berfluktuasi sepanjang hidup seorang wanita, kemungkinan melasma kambuh pun tinggi.
Inilah sebabnya wanita yang pernah mengalami melasma sebaiknya terus mengutamakan perlindungan dari sinar matahari agar kondisi ini dapat dikendalikan secara efektif dan risiko kambuh dapat diminimalkan.
Karena hormon berperan di dalamnya, penggunaan kontrasepsi hormonal pada usia reproduktif, menjalani terapi penggantian hormon (HRT) saat menopause, atau bahkan menjalani pengobatan untuk kondisi medis seperti gangguan tiroid, dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap melasma.
Dalam HRT, estrogen dan progesteron dapat merangsang melanosit (sel penghasil melanin di kulit), sehingga meningkatkan produksi melanin dan memicu melasma.
Kabar baiknya: ketika kadar hormon kembali normal, misalnya setelah seorang wanita melahirkan atau berhenti mengonsumsi pil KB, produksi melanin pun akan berkurang. Dr Lee mengatakan hal ini pada akhirnya akan membuat bercak melasma memudar secara bertahap.
PERLINDUNGAN MATAHARI YANG CERMAT
Anda mungkin tidak dapat berbuat banyak terhadap fluktuasi hormon, tetapi Anda tetap bisa melakukan bagian Anda untuk meminimalkan risiko melasma.
Meski kerusakan akibat sinar UV mungkin bukan satu-satunya penyebab melasma, paparan sinar matahari adalah “faktor risiko yang paling dapat dikendalikan”. Artinya, Anda perlu mematuhi aturan perlindungan matahari secara ketat — mengaplikasikan tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30 setiap hari secara teliti dan cermat untuk melindungi dari sinar UVA dan UVB.
Selain memilih tabir surya dengan pelindung fisik seperti titanium dioksida atau zinc oksida, disarankan juga memilih produk yang mengandung besi oksida, yang dapat memblokir cahaya tampak.
Anda juga sebaiknya menghindari paparan sinar matahari yang kuat dan berkepanjangan, mencari tempat teduh bila memungkinkan, dan menghindari aktivitas di luar ruangan antara pukul 10 pagi hingga 3 sore.
MELASMA BERSIFAT MEMBANDEL DAN MUNGKIN PERMANEN
Tidak ada obat pasti untuk menyembuhkan melasma, dan bagi banyak orang, tingkat kekambuhannya sangat tinggi.
Salah satu kemungkinan penyebab tingginya angka kekambuhan adalah kerusakan permanen pada melanosit akibat sinar UV, kata Dr Tan. Kulit umumnya mampu memperbaiki kerusakan akibat sinar UV setiap hari, tetapi paparan UV yang terus terakumulasi menyebabkan melanosit tidak mampu lagi memperbaiki diri secara maksimal, sehingga menimbulkan perubahan yang tidak dapat dipulihkan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal ini menyebabkan sel-sel kulit menjadi terlalu aktif, sehingga hiperpigmentasi terus muncul berulang kali.
“Kerusakan akibat sinar UV pada lapisan kulit tertentu juga bisa menyebabkan pigmen ‘turun’ atau berpindah ke lapisan kulit yang lebih dalam, membuat perawatan tertentu menjadi kurang efektif atau bahkan tidak berhasil,” tambah Dr Tan.
Menurut Dr Tan, solusi yang menyeluruh adalah kunci dalam mengatasi kekambuhan melasma. Perawatan di klinik dapat mencakup laser fraksional (jenis laser resurfacing yang digunakan untuk mengurangi hiperpigmentasi dan merangsang produksi kolagen), terapi Intense Pulsed Light, chemical peel, hingga obat oral resep seperti asam traneksamat.
Lokasi pigmentasi — baik di epidermis (permukaan kulit), dermis (lapisan kulit yang lebih dalam), atau keduanya — dapat memengaruhi rencana perawatan dan prognosisnya. Secara umum, melasma epidermal menunjukkan respons yang lebih baik terhadap perawatan dibandingkan melasma dermal.
PERAWATAN DI RUMAH UNTUK MELASMA
Untuk perawatan di rumah, selain tabir surya, para dokter merekomendasikan penggunaan hydroquinone, bahan pencerah kulit yang dikenal efektif mengurangi hiperpigmentasi.
“Ini adalah ‘standar emas’ yang menjadi acuan penilaian bahan pencerah kulit lainnya,” kata Dr Tan.
Hydroquinone bekerja dengan menghambat enzim tirosinase, yang dibutuhkan kulit untuk memproduksi melanin. Namun, karena potensinya yang kuat dan potensi efek sampingnya, bahan ini memerlukan resep dokter.
Hydroquinone dengan konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi dan peradangan kulit, yang dapat menyebabkan hiperpigmentasi pasca-inflamasi — akibat dari peradangan kulit atau ketika kulit mengalami cedera.
Untuk pilihan yang dijual bebas, pertimbangkan penghambat tirosinase seperti vitamin C, arbutin, asam kojat, dan asam azelaic. Asam azelaic khususnya bermanfaat dalam mencegah kekambuhan melasma, terutama untuk melasma dermal.
Meski melasma tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat dikendalikan.
Hal yang paling penting adalah segera mencari perawatan sejak dini dari tenaga medis profesional begitu Anda melihat tanda-tanda awal pigmentasi mulai muncul, guna mencegah masalah semakin memburuk.
Baca artikel lengkapnya diCNA Lifestyle
