Ada banyak kontroversi dan kesalahpahaman seputar bahan-bahan kecantikan. Seberapa banyak yang kita ketahui tentang bahan kecantikan dan apa yang perlu kita perhatikan? Dr Ian Tan membagikan wawasannya mengenai 3 bahan kecantikan yang sering disalahpahami — Retinoid, Hydroxy Acid, dan Paraben.
Retinoid mengacu pada kelas produk yang luas yang mengandung retinol, yaitu turunan vitamin A, bahan yang umum ditemukan dalam banyak serum dan krim anti-aging. Bahan ini secara tradisional digunakan oleh dokter untuk membantu pasien memperbaiki tekstur kulit, mengontrol jerawat, anti-aging, dan meratakan warna kulit.
Kesalahpahaman Umum: Retinoid dapat menipiskan kulit.
Sebagian orang mengalami ketidaknyamanan ringan seperti sensasi menyengat atau kulit mengelupas saat menggunakan produk retinol, tetapi itu tidak berarti kulit mereka menipis atau menjadi sensitif.
Fakta: Ini adalah kesalahpahaman karena tindakan awal retinoid adalah meningkatkan pergantian sel pada lapisan paling atas epidermis, yang menyusun sel-sel tersebut dengan lebih teratur. Seiring waktu, penggunaan retinoid mulai memperkuat kulit, membuatnya lebih sehat dan lebih kuat, bukan lebih lemah dan tipis.
Saran Dr Ian: Jika Anda mencoba retinol untuk pertama kalinya, mulailah dengan konsentrasi retinol yang rendah dan gunakan hanya satu atau dua kali seminggu, secara bertahap tingkatkan frekuensinya menjadi setiap dua malam sekali sebelum akhirnya menggunakannya setiap hari. Ingatlah bahwa retinol adalah salah satu bahan yang membuat kulit Anda dapat membangun toleransinya.
Ada cukup banyak asam yang biasa ditemukan dalam daftar bahan di kemasan produk skincare, dan hydroxy acid kemungkinan adalah salah satunya. Dua kelompok besar hydroxy acid adalah alpha hydroxy acid (AHA) dan beta hydroxy acid (BHA). Asam-asam ini terdapat dalam banyak produk kosmetik kita, seperti serum, krim, atau pembersih wajah, dan berfungsi sebagai eksfolian kimiawi.
Kesalahpahaman Umum: Hydroxy acid keras bagi kulit, sehingga menyebabkan penipisan kulit dan meningkatkan sensitivitas terhadap sinar matahari.
Fakta: Efek samping potensial dari penggunaan AHA seperti asam glikolat memang bisa mencakup sensitivitas terhadap matahari, pengelupasan, dan gatal. Secara keseluruhan, ini berarti Anda perlu lebih rajin mengaplikasikan sunscreen dan menghindari pemakaiannya di siang hari.
Saran Dr Ian: Namun, jika digunakan dengan benar, baik AHA maupun BHA dapat menembus permukaan kulit dan melepaskan lebih banyak sel kulit mati dari stratum korneum dibandingkan eksfolian fisik seperti butiran scrub. Keduanya bahkan dapat memperbaiki tampilan kulit yang kusam atau hiperpigmentasi akibat kerusakan sinar matahari atau penumpukan lainnya, meremajakan kulit kering, bahkan mengurangi tampilan kerutan dan menghaluskan kulit. AHA dan BHA juga dapat merangsang regenerasi sel, menghasilkan kulit yang lebih kenyal dengan tekstur yang lebih baik.
Paraben adalah sekelompok bahan kimia yang banyak digunakan dalam produk farmasi topikal/kosmeseutikal sebagai pengawet, yang mencegah tumbuhnya jamur pada produk skincare.
Kesalahpahaman Umum: Paraben adalah bahan kimia beracun dan dapat menyebabkan kanker payudara.
Fakta: Reputasi buruk seputar paraben berasal dari sebuah studi tahun 2004 yang secara keliru mengaitkan paraben dengan kanker payudara. Namun, terlepas dari apa yang ingin dipercayakan banyak merek kosmetik kepada Anda, paraben tidak beracun dan Anda tidak perlu menghindarinya.
Saran Dr Ian: meskipun paraben tidak banyak berpengaruh pada kulit, justru berpotensi lebih berbahaya jika produk skincare kita tidak mengandung bahan ini sama sekali. Paraben merupakan salah satu bahan pengawet tertua, paling efektif, dan paling banyak diteliti yang ada. Tidak ada bukti bahwa jenis paraben dengan kadar rendah yang digunakan dalam formulasi produk skincare menyebabkan gangguan hormon atau kanker pada manusia, seperti yang diklaim oleh beberapa artikel.
Faktanya, untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat akan produk bebas paraben, industri justru beralih ke alternatif yang lebih buruk; misalnya pengawet yang mengandung Methylisothiazoline (MI). MI kurang efektif, digunakan dalam cat dan lem industri, dan telah dikaitkan dengan tingginya tingkat dermatitis kontak alergi.